Monday, March 16, 2015

Pendeta Asal Aceh, Muhamad Husein Hosea

Written By khairul anwar on Selasa, 19 Agustus 2014 | Selasa, Agustus 19, 2014

Dibenaknya tidak pernah terpikir sedikitpun untuk pindah agama. Tapi rencana Tuhan lain. Di usianya yang tiga tahun, pria kelahiran Sigli, Aceh Pidie, 14 Agustus 1951 ini ikut ayahnya yang militer pindah tugas ke Medan. Ayahnya mempunyai 4 istri. "ibu kandung saya meninggal waktu saya masih kecil.
"Saya menyelesaikan studi saya sampai menjadi calon uztad," tutur Pdt. Muhamad Husein Hosea. Di Medan ia ikut organisasi yang kala itu ingin membentuk Aceh Merdeka. "Kami memerangi orang Kristen dan Batak. Saat itu saya menjabat sebagai Sekjen. Tujuan kami membentuk RI jadi negara Islam. Dimasa itu saya juga masuk anggota Komando Jihad," tuturnya.
Tahun 1967, katanya, mereka merusak sejumlah gereja di Aceh sehingga tinggal dua gereja. Itupun karena kedua gereja tersebut berada di lingkungan Angkatan Laut. Aksi itu berlanjut ke Sumatera Utara. "salah satu aksi kami adalah membom Gereja Methodist Indonesia di Medan tahun 1971" jelasnya.
::Membunuh Pendeta
Pada akhir 1972, ia diperintahkan membunuh pendeta HKBP Teladan, Medan. "Selama empat minggu berturut turut, saya bersama teman teman saya mempelajari tentang pendeta itu. Sehari sebelum hari H, gereja itu kami tebari kotoran manusia" ucapnya. Pada hari H dengan bersenjatakan Golok dan rencong, mereka sudah berada di Gereja itu sejak pagi hari.
"Sampai jam 11.00 siang, pendeta yang kami incar tak kunjung datang". Paparnya. Tapi hal itu tidak menyurutkan keinginan mereka. "Setelah letih menunggu diluar, saya bersama teman menunggu di dalam gereja. Yang sebagian lagi diluar mengawasi situasi. Kami duduk dikursi paling belakang. Kami mengikuti ibadah tersebut dengan hati yang panas" lanjutnya.
Saat sang pendeta tengah berkhotbah tentang Adam dan Hawa, ia lalu mencoba membandingkan isi khotbah itu dengan agamanya. "Tiada bedanya," kilahnya. Entah mengapa saat itu ia tampak begitu menyimak khotbah tersebut. Ternyata dalam acara itu juga dilaksanakan ibadah pemberkatan nikah
"Ketika itu pendeta berkata bahwa barangsiapa yang telah disatukan Allah, tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Lantas saya berpikir kalau di agama saya bisa seorang suami beristri lebih dari satu asalkan berlaku adil. Dan seorang suami juga bisa menceraikan istri mulai dari talak satu sampai pasak (membatalkan)" kisahnya.
Seketika itu juga teringatlah ia pada orang tuanya. Saya begitu sedih tentang hal ini. "Ayah saya beristri empat"cetusnya.­ Terjadilah perbandingan dalam pikirannya. Pergumulan kian hebat. Ribuan pertanyaan terlontar. Mungkinkah seorang suami berlaku adil dengan dua atau tiga istri? Dimana letak keadilannya? Pertanyaan itu terlintas di benaknya.
Akhirnya sampailah ia pada suatu kesimpulan bahwa agamanya telah tidak berlaku adil. "Bagaimana mungkin seorang suami berlaku adil dengan istri yang lebih dari satu?" batinnya. Khotkah pendeta itu ternyata berdampak besar terhadap dirinya. "Akhirnya saya mengurungkan niat membunuh. Teman-teman saya keheranan saat saya ajak pulang. Mereka bertanya tanya, ada setan apa yang membuat saya berubah drastis. Tidak lagi bernafsu membunuh, malah membatalkan rencana yang sudah rapi tandasnya.
Pada tahun 1973, ia mengikuti MTQ tingkat peropinsi di Medan. Hari-hari yang dilaluinya tidak lepas dari khotbah yang diucapkan pendeta tadi. "Saya bertanya dalam hati apakah maksud semuanya ini" ungkapnya. Seusai MTQ ia baru sadar bahwa apa yang selama ini dialami merupakan panggilan Tuhan. Ia memutuskan untuk mencari kantor penginjilan dan menyerahkan diri bagi Kristus. Awalnya ia tidak tahu kemana. Tapi seingatnya ada kantor orang Kristen di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Dengan uang secukupnya dan bermodal tekad bulat berangkatlahia ke kota itu. Di Siantar ia bertemu dengan Pdt. Panjaitan yang saat itu menjabat direktur Zending HKBP.
Setelah menceritakan kisah hidupnya ternyata ia tidak langsung diterima. Pasalnya ia adalah seorang yang tengah dipersiapkan menjadi seorang ustad. Latar belakang keluarganya yang fanatik dijadikan alasan untuk menolaknya. "Tidak baik seorang calon ustad pindah agama, demikian kira kira ucapan Panjaitan. "Tapi saya sudah bertekad menjadi Kristen. Bukan karena paksaan, semuanya murni keinginan saya" tuturnya.
Akhirnya oleh seorang pengurus sebuah Panti Asuhan ia dikirim ke Dinas Sosial. "Disana saya dibina selama enam bulan. Dari situ saya dibawa ke Tarutung. Saya belajar selama satu tahun setelah itu saya baru masuk STT. Saya dikirim ke STT Duta Wacana Yogjakarta. Saya dibaptis tahun 1975 di Sipoholon, Tapanuli Utara" ujar suami tercinta Enny Simamora ini.
::Disiksa di Penjara::
Setelah meyelesaikan studi dan menyandang predikat hamba Tuhan, ia menginjil dikota kelahirannya. Mengetahui hal itu, orang tuanya yang dari awal sudah menentang kepindahannya langsung menyebarkan isu isu menyesatkan pada masyarakat setempat.
Ia dituduh mengkristenkan orang Aceh secara paksa. Orang tuanya juga melaporkannya kepada Polisi Pangkalan Susu dengan tuduhan melakukan Kristenisasi. Ia langsung dijebloskan ke penjara dan mendekam selama enam bulan.
Di penjara, ia dihajar, dipukul bahkan diperlakukan tidak seperti manusia. "Di penjara yang berukuran sempit, saya hanya mengenakan pakaian dalam. Saya tidur berdiri" ujarnya. Keluarganya secara terang-terangan­ menyuap polisi agar memperlakukanny­a secara sadis. Sementara ia menjalani masa hukuman, keluarganya sudah menyusun rencana menghabisinya. "Saya pasrah. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa dan berdoa. Saya percaya bahwa Allah yang saya sembah adalah Allah yang sanggup menolong saya. Saya berdoa sampai menangis. Ternyata doa saya dijawab Tuhan," kenangnya. Melalui memo dari Kapolda Sumut saat itu akhirnya ia dibebaskan. "Bagi saya itu suatu mujizat," tutur ayah Ranto Rosnawati, Sondang Nur Cahaya, Daniel Kariadi dan Cut Rachel ini.
Jeruji besi ternyata tidak mampu memadamkan semangatnya untuk melayani. Ini terbukti sekeluarnya dari penjara, ia bersama keluarganya memutuskan pergi ke Lhokseumawe. Selain menginjil, ia juga ingin bertemu dengan keluarganya, walaupun keluarganya masih antipati, tapi ia tidak menyimpan dendam.
Justru ia ingin membuktikan bahwa agana yang dianutnya mengajarnya untuk mengasihi sesama bagaimanapun pahitnya kehidupan. Ketika ayahnya meninggal tahun 1982, ia tidak diizinkan untuk melihat jasadnya. "Haram hukumnya," ujar mereka menghalang halanginya. Ia hanya diizinkan melihat dari balik jeruji besi mobil tahanan. Ironis sekali.
"Saat saya menetap di Lhokseumawe, banyak orang Aceh mengenal Tuhan. Setelah sekian lama belajar firman Tuhan pada tanggal 12 Desember 1991 saya membaptiskan enam orang Aceh," kisah anak ke dua dari sembilan bersaudara pasangan Alm, H. Muhammad Yusuf dan Cut Manyen ini.
Malamnya , rumahnya didatangi massa yang jumlahnya ratusan. "Dalam waktu sekejap rumah saya habis dilalap api. Harta benda kami habis dijarah," ungkapnya. Tapi, lanjutnya lagi lagi mujizat Tuhan terjadi. Meski rumah kami habis, tapi tidak ada satupun dari kami yang lecet sedikitpun.
"Saya masuk penjara lagi selama empat bulan" kisahnya. Ia dituduh telah menghianati agama terdahulunya. Hukuman yang diterimanya adalah rajam (dipukul dengan rotan) sebanyak 1000 kali. Ada dua pilihan yang diberikan padanya. Dirajam atau pindah kembali ke agama asalnya. "Ketika itu saya diiming imingi berbagai fasilitas mewah jika pindah agama. Di pengadilan yang dihadiri oleh Pemda, Muspida dan keluarga saya, ditanya apa keputusan saya. Tapi saya tetap memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus. Segala harta benda itu fana, tapi Kristus abadi," jelasnya.

Soal teror, sampai saat inipun masih membayanginya. "kepala saya dihargai mereka lima juta" ujarnya. Kini Husein Hosea melayani di Tangerang. Ia juga kerap diminta bersaksi di berbagai tempat.

GUA TUJUH DAN MISTERI DI DALAMNYA

Written By khairul anwar on Rabu, 03 September 2014 | Rabu, September 03, 2014

Gua Tujuh adalah gua yang dianggap sebagai peninggalan sejarah oleh masyarakat daerah Laweung. Ada tujuh pintu utama memasuki Gua Tujua ini. Ke Tujuh pintu tersebut mempunyai sisi yang berbeda-beda. Lokasinya di Jl. Banda Aceh – Medan KM 100, Desa Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh.
Gua ini, dikelilingi dengan gunung yang tak berhutan. Atau sering disebut dengan pegunungan bebatuan. Memasuki kawasan Gua Tujuh tentu harus berhati-hati. Karena, jalan menuju ke Makam yang sering di sebut para Aulia tersebut masih banyak mengalami kerusakan. Jalan yang terjal dan banyak bebatuan, sehingga pengunjung sulit untuk mengendari sepeda motor atau bus wiasata.
Dengan Panorama pengunungan bebatuan di selah-selah bukit tinggi, Gua tujuh terletak diperbatasan sebelah barat. Tepatnya, bebatasan dengan daerah laweung dekat Selatan. siapapun yang menuju ke daerah tesebut bisa melepaskan pandangan ke pesisir pantai laut selatan. Tentu memiliki keindahan tersendiri jika berada di puncak gua tersebut.
“Hampir semua orang pernah mendengar mengenai Gua Tujuh itu. Meskipun, banyak orang yang menceritakan dengan berbagai informasi yang di dapatkan. Namun, keakuratan tidak bisa digambarkan dari mulut ke mulut. Terkesan Gua Tujuh hanya sebagai cerita rakyat belaka” kata Arif salah seorang yang berkunjung ke Gua Tujuh tersebut.
Anehnya, tempat tersebut tidak bisa di sebut sebagai parawisata. Karena siapapun yang berkunjung ke Gua Tujuh, di namakan perjalanan Ziarah para Aulia-Aulia yang pernah bertapa di dalam Gua Tujuh . “Jika di jadikan wisata, maka pengunjung tidak menjaga etika ketika berada di gua ini, justru Gua Tujuh bisa dikatakan tempat ziarah banyak pengunjung. Apalagi, ini tempat suci para Aulia yang sedang bertapa “ kata Ambiya salah seorang Guide di Gua Tujuh perbukitan Laweung itu.
Seperti dunia mistis, ketika kita mendengarkan cerita atau sejarah Gua Tujuh. Karena, banyak orang menggambarkannya dari mulut ke mulut. “Siapa saja bisa menceritakan, asal mereka berada di wilayah tersebut. Meskipun sudah banyak orang dari luar melakukan pusat penelitian tentang luasnya Gua Tujuh itu, sampai saat ini belum ada yang membukukannya” Tambah Ambiya.
Menurut cerita, Gua Tujuh tersebut terdiiri dari 28 Gua. Dengan pintu utama berjumlah Tujuh, sebagai pintu pembuka menuju Gua selanjutnya. Hanya Tujuh pintu yang bisa dimasuki oleh orang. Sedangkan saat ini, hanya tersisa Empat pintu yang masih terbuka lebar. Yang lainnya sudah tertutup dan tidak bisa dimasuki, dengan berbagai alasan yang ada. Bisa saja arah gua tersebut terlalu luas, takut tersesat dan tidak tahu pintu keluarnya . Ditambah lagi, Gua Tujuh itu tidak di beri cahaya lampu sehingga terlihat sangat gelap dan pekat. Hanya ada cahaya senter yang terlihat ketika orang memasuki ke dalam gua itu.
Menurut Safrullah (45) Salah seorang pemandu di Gua Tujuh itu mengatakan, banyak orang yang berkunjung kedaerah tersebut baik dari Aceh maupun luar aceh seperti dari pulau jawa dan sumatera. Bahkan, Turis juga pernah sering berkunjung untuk penelitian mengenai keluasan Gua Tujuh tersebut. Namun, banyak yang gagal karena gua itu tidak bisa di ukur luasnya.
“Gua ini gua suci, semua Aulia berkumpul di sini. Mereka bertapa mengharap kasih dari Tuhan. Berjalan sampai ke haji, melalui perjalan bertapa. Kekuatan mereka menyatu. Ada yang terjatuh kelaut karena gagal dengan berbagai rintangan ada juga yang berhasil hingga menembus Tanah Suci”. Kisahnya.
Tidak hanya para Ulama aceh yang melakukan pertapaan di wilayah gua tujuh ini, tetapi ada juga para ulama dari luar Aceh, tapi masih banyak yang gagal. Itu terlihat saat para pertapa meceritakan kisahnya selama beberapa minggu menjalani pertapaan. Ada yang badannya merah seperti kena cambukan, ada juga dengan selamat membawa kris yang telah berhasil di ambil dari dalam gua tersebut. Ia juga menuturkan mengenai pertapaan seorang ulama hingga menuju Arab. Banyak cerita yang dikisahkan kepada pengunjung, meskipun cerita tersebut terlihat mistis tapi, cerita gua tujuh tersebut memang ada di dunia nyata.
Salamah (63) adalah warga Laweung di Desa Suka Jaya. Ia mengisahkan bahwa Gua Tujuh merupakan gua perjalanan haji para Aulia. Gua Tujuh yang sudah ada berabad-abad itu menurut cerita bukan sebuah gua yang terbentuk dari peristiwa Alam. Namun, ada suatu kejadian yang nyata yang tidak bisa di gambarkan oleh manusia sekarang. berbagai adat-istiadat juga ada di dalam Gua tersebut. Ada sebuah peristiwa penting yang terjadi di Gua Tujut tujuh itu. Sampai sekarang belum ada Ahli sejarah yang bisa menelusuri seberapa luas gua tersebut.
Selain itu, Gua Tujuh juga pernah digunakan sebagai sarana pertapaan (menyendiri). Orang Aceh menyebutnya ‘Kaluet’. Istilah ini tepatnya bernada positif. ‘Kaluet’ merupakan sarana untuk meningkatkan harmonisasi antara manusia dan Allah SWT. Mereka hanya beribadah. Biasanya orang yang memilih ‘Kaluet’ ini hingga berbulan-bulan lamanya menetap dalam gua tersebut. Ditengarai mereka tidak makan dan minum.
Salimah, sebagai orang yang di jadikan Nara Sumber ketika mendapatkan informasi tentang Gua Tujuh itu menjawab dengan lisan dan cerita dari nenek buyutnya zaman dahulu. Lagenda Gua Tujuh merupakan peristiwa penting sampai sekarang. faktanya, masih banyak orang-orang para Ulama yang datang dari Aceh, Pulau Jawa, dan juga Luar Negeri untuk melakukan percobaan Pertapaan. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang cantik dan Solehah datang ke tepat itu, puluhan tahun yang lalu. Ia berniat ingin melakukan pertapaan ke dalam Gua tersebut. Belum sampai seminggu, di dalam gua yang gelap gulita, perempuan itu langsung keluar dengan kondisi tubuh yang bengkak seperti ada pukulan cambuk di bagian belakangnya. Mendengar cerita tersebut bagi masyarakat modern tentu sangat tidak masuk akal. Namun, itulah realita yang terkisah di Gua Tujut itu.
Cerita mistis lainnya terkait harta benda yang dikandung Gua Tujuh. Diyakini, Gua Tujuh banyak memiliki peninggalan emas. Sebagian sumber memercayai emas itu milik kerajaan Aceh masa lalu yang dikuburkan disana. Sebagian lain merasa emas itu fatamorgana. Hanya bisa dilihat oleh Aulia, orang yang dianggap keramat.
Untuk mengamati pintu masuk gua ini, banyak orang yang mengantung sendi kehidupan disana. Dengan berjualan minuman, dan makanan yang di sediakan khusus unntuk para pengunjung. Indahnya lagi, tempat ini tidak di tarik biaya apapun , termasuk untuk memasuki gua tersebut. Hanya saja pengunjung bisa membayar dengan seihklasnya kepada para guide yang sudah mendampingi pengunjung mulai dari pintu masuk hingga pintu arah keluar gua tersebut.
Soal perawatan dan penjagaan Gua Tujuh, sudah ada dalam tatanan aturan pemerintah kota Pidie yang berhubungan dengan Dinas Pariwisata. “Disana, para Guide sudah mendapatkan jatah masing-masing, meskipun hanya sedikit” Ujar Safrullah, tidak ingin deketahui berapa gajinya perbulan sebagai penjaga Gua Tujuh itu.
Pengunjung juga banyak pantangan jika memasuki gua tersebut. Salah satunya, tidak bisa bepaikaian yang terlalu ketat seperti celana Jeans dan Lejing. Apa lagi pergi berdua-duaan. Itu sangat di larang, karena untuk menjaga hal yang tidak di inginkan.
Didalam gua tersebut, ada juga ukiran ayat Allah yang tertulis jelas di atap bebatuan gua. Nukilan Bismillah itu bukanlah ciptaan Manusia, akan tetapi memang sudah ada dari bebatuan di atas atap Gua itu. Biasanya tulisan Ayat Allah tersebut akan mengeluarkan tetesan air, dan air tersebut di tampung dalam Drum. Jika pagi hari, hanya penjaga gualah yang berhasil mengambil air tersebut dan memasukkannya kedalam botol Aqua. Kemudian, air tersebut di pasarkan kepada pengunjung. Alkisah, air tersebut bisa menyembuh berbagai penyakit.

Tidak hanya itu, ada juga tempat duduk Pelaminan, dapur, dan tempat lainnya yang sudah membatu. Dari pengamatan penulis, dulunya gua tersebut di huni oleh para ulama dan kerajaan-kerajaan, karena banyak peninggalan di dalamnya yang bisa di ambil sampai saat ini. Meskipun harus melalui pertapaan seperti yang pernah di lakukan oleh para ulama-ulama terdahulu. Dan sebagai bukti ulama yang berasal dari daerah Jawa pernah berhasil mengambil keris selama pertapaannya dalam Gua tersebut. (Sumber dari; Majalah Potret)

15 Warga Aceh Jadi Pendeta

15 Warga Aceh Jadi Pendeta
Written By khairul anwar on Sabtu, 14 Maret 2015 | Sabtu, Maret 14, 2015
Sebanyak lima belas orang, warga Aceh kini menjadi Pendata di Medan. Bahkan meraka akan dikirim ke Aceh untuk membabtiskan Warga Aceh pindah ke Agama Kristen.
  Letak Aceh yang strategis menyebabkan perdagangannya maju pesat. Dengan demikian, kebudayaan masyarakatnya juga makin bertambah maju karena sering berhubungan dengan bangsa lain. Contohnya, yaitu tersusunnya hukum adat yang dilandasi ajaran Islam yang disebut Hukum Adat Makuta Alam.
            Dengan hukum adat Makuta Alam itulah, sehingga tata kehidupan dan segala aktivitas masyarakat Aceh didasarkan pada aturan Islam. Dengan demikian, keadaan Aceh seolah-olah identik dengan Mekah, Arab Saudi. Atas dasar itulah, Aceh mendapat julukan Serambi Mekah.
            Beranjak beberapa pekan yang lalu beredar pesan melalui jaringan Henphon seluler blackberry messenger (BBM), sebanyak lima belas warga Aceh diduga kini menjadi pendeta di Medan. Mereka diduga berasal beberapa Kabupaten Aceh Pidie, Aceh Utara dan Bireuen. Meskipun dekimikian salah satu diantara meraka telah mendapatkan jabatan dan kedudukan disalah satu geraja ternama di Madan.
            Adapun nama-nama yang diduga kini diangkat Pendata tersebut yakni, Pendata Hasan Ibrahim STh, pendeta Zaini, ST,h, pimpinan Gereja sejantera di Medan, Pendeta Iskandar, ST,h, Pendeta Jafaruddin Adan, sedang mengikuti Kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Abadi  Bangsa, Jln Medan Km 10, Pendeta Abdullah ST,h, Pendeta Jamaluddin, ST,h, Pendeta Zainuddin, ST,h, Pendeta Anwar Ibrahim Puteh, ST,h, Pendeta Jamaluddin, ST,h, Pendeta Ahmad Mustafa, ST,h, Pendeta Evi Madalena, Pendeta Rahmi, nama-nama tersebut berasal dari Bupaten Pidie, sedangkan Pendeta Muhammad Nur, ST,h, berasal dari Aceh Utara dan pendeta Cut Hardianti, berasal dari kabupaten Bireuen.   

            Pengirim pesan tersebut tidak berani menjalaskan secara mendetil sejak kapan kelima belas warga Aceh itu pindah agama dan dingkat menjadi pendeta.  

Jejak Muallim Samudra Pasai

Written By khairul anwar on Jumat, 20 Desember 2013 | Jumat, Desember 20, 2013


AIR mengalir tenang dalam kanal tua itu. Pohon bakau tumbuh subur di kanan kiri. Letak saluran air ini tak jauh dari Jalan Merdeka Barat, jalur masuk ke pusat Kota Lhokseumawe. Terusan yang menyambung dengan Krueng Cunda dan bermuara ke laut itu juga bisa dilihat dari lokasi makam Teungku Lhokseumawe di Gampông Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti.
“Kanal Cunda dari Banda Masen, Uteun Bayi sampai Kutablang (Kecamatan Banda Sakti), sebelah utara ataupun timur laut, itu aktif di zaman (Kerajaan) Samudra Pasai. Pada masa itu mungkin kanal ini menjadi jalur yang sering dilewati (kapal) tongkang-tongkang,” ujar peneliti sejarah dan kebudayaan Samudra Pasai, Taqiyuddin Muhammad.
Di atas balai markas Central Information for Samudra Pasai Heritage atau CISAH di Gampông Uteun Bayi, Jumat malam pekan lalu, Taqiyuddin mempresentasikan hasil penelitiannya. Presentasi diprakarsai salah seorang tokoh masyarakat, T. Anwar Haiva, dihadiri Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Lhokseumawe Ishaq Rizal, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Lhokseumawe Ibrahim, dan warga pencinta sejarah.
Hasil penelitian Taqiyuddin, ditemukan bukti konkret ada kehidupan maritim yang kuat pada era Samudra Pasai. Ya, Samudra Pasai adalah pangkalan di jalur sutra bahari. Para sejarawan sering menyebutkan letak geografis Samudra Pasai sangat strategis.
Taqiyuddin meyakini, Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim pada masa silam tentu mempunyai armada dagang, armada militer, atau angkatan laut yang menunjukkan kekuatan maritimnya sangat kuat. “Jadi, ini sebenarnya kemaritiman atau kelautan Lhokseumawe yang sangat berpotensi. Saya kira, Kanal Cunda itu bisa diaktifkan kembali, dan jika dipadu dengan hutan mangrove (bakau), tentu akan menjadi daya tarik wisata yang cukup potensial,” ujar Taqiyuddin.
Namun, kata Taqiyuddin, pemerintah harus membatasi bangunan permanen di lintasan kanal. Kalau tidak ada bangunan rangka baja, setiap orang yang melewati jalur masuk ke kawasan pusat Kota Lhokseumawe bisa melihat kanal.
Di sekitar lintasan kanal, Taqiyuddin melanjutkan, ditemukan banyak batu nisan kuno yang menunjukkan kawasan ini dulunya pemukiman Samudra Pasai. Di lokasi ini juga sering ditemukan dirham atau koin emas sebagai alat tukar masa Kerajaan Samudra Pasai.
Hasil identifikasi Taqiyuddin, kawasan inti pemukiman para pelaut era Samudra Pasai berada di Jeulikat dan Blang Weu Baroh, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, saat ini. Di kawasan itu ada kompleks pemakaman amat luas, makam-makam yang batu nisannya bersurat. Lokasi ini belum dilestarikan, bahkan menjadi tempat peliharaan ternak warga.
“Di kompleks pemakaman juga ada lambang-lambang yang berkaitan erat dengan kelautan atau ilmu bahari. Ada beberapa kompleks yang dihuni mu’allim-mu’alim atau para pelayar atau navigator. Salah satunya kompleks, makam Mu’allim Ahmad. Di sana ada sekitar 50 batu nisan kuno,” ujar Taqiyuddin.
Di Jeulikat, hasil identifikasi Taqiyuddin ada pula nisan dari makam anak Mu’allim (navigator) Damah. Karena itu, kata dia, ketika muncul pertanyaan di mana letak pemukiman para pelaut kalau benar Samudra Pasai dikenal dengan kemaritiman, Jeulikat-lah jawabannya.
“Kalau sebelumnya kita bertanya, di mana pangkalan laut Samudra Pasai, pangkalan lautnya di Lhokseumawe. Jadi, kalau kita ingin merancang Lhokseumawe sebagai ikon Bandar Samudra Pasai, sah-sah saja karena kita memiliki bukti konkret, termasuk pemakaman abad ke-15 dan abad 16,” ujar Taqiyuddin.
Namun, kata Taqiyuddin, perlu penelitian lebih lanjut dengan melibatkan tim lebih lengkap, termasuk para arkeolog guna memetakan bagaimana sebenarnya Lhokseumawe abad ke-16. Kemudian potensi ini diberdayakan menjadi aset pariwisata yang sangat baik sebagai lokasi wisata sejarah dan religi.
“Karena untuk mengundang investasi luar, kita harus punya sesuatu yang bisa kita tawarkan, yang memiliki nilai jual. Saya kira, ini bisa kita tawarkan karena punya nilai besar; Lhokseumawe sebagai Bandar Samudra Pasai, dengan keberadaan kanal dan pemukiman pelaut,” ujarnya.
Melalui penelitian lanjutan, Taqiyuddin meyakini akan ditemukan lebih banyak informasi dan aset sejarah berupa artefak. Temuan artefak-artefak, kata dia, membuat Lhokseumawe berpotensi membangun museum sejarah dengan spesialisasi museum maritim.
“Kita orang laut, maka kehidupan bahari diangkat kembali. Apalagi ternyata Lhokseumawe pernah dihuni oleh mu’allim-mu’allim (navigator) besar. Selat Malaka tidak mungkin dilalui tanpa navigator karena lantai laut ada yang dangkal, berbukit, dan sebagainya. Para mu’allim itu bermukim di sini,” ujarnya. Taqiyuddin optimis Lhokseumawe akan menjadi pusat perhatian dunia kalau potensi ini diangkat.
Paparan Taqiyuddin membuat Kepala Dinas Perhubungan Lhokseumawe Ishaq Rizal, terharu. “Ternyata kita punya banyak potensi purbakala yang luar biasa, bagi saya pribadi ini sesuatu yang baru. Informasi seperti inilah yang selama ini saya cari-cari,” ujar Ishaq Rizal.
Temuan Taqiyuddin, kata Ishaq Rizal, ibarat “gayung bersambut” dengan program Dinas Perhubungan yang tengah memprioritaskan pengembangan sektor pariwisata, termasuk rencana membangun museum sejarah. Karena itu, Ishaq ingin menjalin “ijab kabul” dengan CISAH guna melanjutkan penelitian. Sumber : http://atjehpost.com

Thursday, February 19, 2015

Firm Ground Soccer Shoes

Firm Ground Soccer Shoes: Play pure soccer with the 11Pro TRX FG from adidas. They are the ultimate threat to your opponents' posts. This cleat combines the comforts of kangaroo with the technology to enhance durability in an incredibly light package.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LD6jM

Brick Boots

Brick Boots: Adidas x Ransom Chase Boots in Brick.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LD6it

ZX 850 Shoes

ZX 850 Shoes: Adidas ZX 850 navy and red shoes. Adidas coming with super clean blend of navy blue suede, red accents, and even a bit of black leather in this ZX 850. Last on the side panel we see the classic “three stripes” with a navy blue nylon underlay.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LD1sF

Translate